Rabu, April 13, 2005

PRAHARA DI BUKIT TIDAR (Reload)

Oleh: Damarati

Matahari mulai mengintip dari timur. Merayap naik di antara sela pertemuan lereng Merapi dan Merbabu. Cahayanya kuning keemasan. Menghangatkan pagi yang masih basah oleh embun semalam.
Slamet belum terbangun dari peraduan. Sinar matahari tanpa permisi masuk dari jendela kamar Slamet yang telah terbuka. Hangatnya membuat Slamet terjaga. Pertanda bagi dia untuk segera pergi ke ladang. Tanaman palawija dan umbi-umbian yang dia tanam telah menunggu tangan telatennya.
Sementara di dapur, Ratmi sudah bergelut dengan asap dan jelaga. Wanita itu menyiapkan sarapan dan bekal bagi Slamet ke ladang. Rutinitas ini sudah mulai akrab dia lakon sebagai wujud bakti seorang istri.
“Mas Slamet, ayo bangun” sembil mengoncangkan perlahan tubuh Slamet yang mulai terjaga. Nyawanya masih setengah memasuki raga.
“Jam piro saiki?” tanya Slamet.
“Wis awan, ayo adus terus age-age budal menyang kebon”
Tanpa menjawab Slamet beranjak pergi meninggalkan kamar. Beberapa saat kemudian dia telah selesai dengan aktifitas paginya. Kini dia siap membuka hari dengan kerja.
Lereng Tidar yang membentang dari selatan ke utara. Sebagian lereng masih ditumbuhi pohon pinus dan cemara gunung. Jika naik ke atas lagi ada hutan kecil. Tempat taruna AKABRI berlatih perang perangan. Sisi utara lereng Tidar menyimpan mitos tersendiri. Dua makam tanpa nama di batu nisan. Penduduk sekitar menamakan tempat itu Petirasan Kyai Sepanjang. Menurut cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, di dalam makam tertanam pusaka peninggalan kerajaan Mataram. Karena mitos pulalah banyak yang mencari tuah dengan tirakat di tempat itu.
Sementara di bagian lereng Selatan terlihat area pertanian. Ada juga petak pemeliharan ikan mas dan nila. Tampak pula rumpun padi tertanam baik di sengkedan. Menghampar laksana anak tangga berlapis karpet hijau.
Di lahan yang tidak terlalu luas Slamet menanam harapannya. Palawija dan kacang kacangan tumbuh dengan subur sebagian dari mimpi itu yang mulai terwujud.
Bagi Slamet tanah ini adalah karunia. Begitulah Tuhan merahmatinya. Permohonan untuk menyewa tanah negara ini dikabulkan oleh Perhutani. Mungkin karena krisis ekonomi yang begitu menjerat rakyat hingga akhirnya pemerintah sedikit bijak. Lahan ini disewakan dengan sistem bagi hasil. Slamet sangat terbantu dengan kebijakan ini.
Meskipun pendidikannya tidak tinggi Slamet sangat teguh dalam memegang pendiriannya. Terutama soal pilihan hidupnya sebagai petani. Bertani adalah warisan dari ayah yang tetap dipertahankan. Sementara banyak saudaranya memilih merantau ke Jakarta, Slamet tetap memilih tinggal di Magelang. Untuk bertani, pilihannya pasti.
Hari ini suasana hati Slamet pun sedang cerah. Ratmi istri yang baru dinikahinya dua bulan yang lalu telah memberikan kebahagian yang belum pernah dia rasakan dalam hidupnya. Lukisan tentang keluarga behagia yang dia bayangkan selama ini telah tertoreh dalam masa bulan madu ini. Ratmi istri yang cantik. Alam Kopeng yang sejuk memberi rahmat bagi rupa Ratmi. Wajah elok tanpa poles make up. Kulit putih mulus. Tubuh sekel berisi membangkitkan imaji liar kala mata kaum Adam memandang. Pantaslah jika dia menjadi bunga desa di kampungnya.
Sebuah anugrah lagi bagi slamet karena berhasil menyunting Ratmi. Bagi Ratmi sendiri sebuah tanda tanya besar mengapa berkenan menerima Slamet yang sederhana. Mungkin inilah anehnya cinta. Bermain di hati, membutakan pertimbangan akal dan nurani. Mungkin karena hanya rasa dan naluri yang bermain di sini. Cinta tak perlu alasan.
Seperti biasa, hari ini slamet mengarap lahannya. Peluh telah menggenangi tubuh Slamet ketiak matahari telah sampai sepenggalah. Dia berhenti sejenak. Kemudian dia berteduh di gubug gribig untuk melepas lelah. Dibukanya bekal yang disiapkan oleh istrinya tercinta.
“Ah indah betul hari ini” gumamnya.
“Sebentar lagi panen tiba. Tingggal menhitung hari saja. Semoga semuanya lancar” sambungnya.
Meski hitungan pasaran wetonku dan Ratmi kurang bagus menurut betal jemur. Senen legi bertemu sabtu paing. Alamat kisruh ketika memulai usaha. Namun hamparan ladang ini menghanguskan semua ramalan itu. Semoga hitungan itu salah. Semoga.



Manusia diciptakan Tuhan beragam watak dan tabiat. Ada manusia berbudi luhur dan ada pula yang bermoral hancur. Seperti Pak Ramon, pengusaha mebel dari Bandung. Lelaki bermata biru. Diwarisi dari ayahnya yang Belanda. Ibunya orang Sunda. Wajah blasteran ini memang terbukti berhasil menaklukan banyak wanita. Dia beristri satu namun tak terhitung berapa gundik dan istri simpanannya. Bisa jadi hal ini yang membuat dia terlihat muda di usianya yang menginjak lima puluh lima.
Di dunia perkayuan dia terkenal handal dalam memainkan trik dan siasat bisnis. Mungkin lebih dekat dengan intrik dan licik. Prinsip hidup Pak Ramon adalah berusahalah menjadi pemenang, bagaimana pun caranya..
Usaha Pak Ramon bisa dibilang sukses. Dia telah memiliki beberapa toko mebel di berbagai kota. Otak bisnisnya tidak pernah mengenal kata cukup dalam melebarkan sayap usaha. Tidak jauh dari bisnis kayu tentunya. Saat ini bisnis kayu olahan mulai dia lirik. Prospeknya cukup cerah, terutama kayu olahan sengon dan albasia. Dia telah melihat bukti keberhasilan beberapa perusahaan Salatiga yang sukses di bidang ini. Ingin sekali dia mengeruk rupiah dari bongkahan log kayu.
Magelang, kota dingin yang menjanjian, pikir Pak Ramon. Bukit Tidar adalah target salah satu lokasi yang diincarnya sejak dulu. Bukit Tidar bukan hanya subur menjajikan. Lebih dari itu mimpinya untuk menggali harta terpendam di tanah itu akan segera menjadi kenyataan.
Pak Ramon sedang menikmati suara burung perkutut kesayangannya. Sambil duduk di kursi malas di teras rumahnya yang luas. Tentu saja luas sebab rumah tersebut terletak di kawasan elit perumahan Kyai Langgeng.
“Narto!” Panggil Pak Ramon pada centengnya.
“Dalem Ndoro” Bergegas sang centeng menghapiri seruan majikannya.
“Ah, kamu ini lama sekali dipanggil! Dari mana saja kamu?”
“Anu Ndoro, anu, saya baru selesai mengerjakan tugas yang Ndoro suruh”
“Tugas yang mana? Masalah tanah maksudmu?” Pak Ramon menebak
“Leres Ndoro” jawab Narto Mantap
“Berarti bulan depan akau sudah bisa mulai membangun. Betul?”
“Maaf Ndoro. Masih ada satu orang yang belum bersedia menyerahkan tanahnya. Padahal dia cuma menyewa dari perhutani”
“Cepat urus dia. Cuma cerurut kecil saja kamu kewalahan.” Pak Ramon kesal
”Saya akan segera kerjakan seperti perintah Ndoro. Saya beri dia pelajaran. Biar kapok dan bersedia menjual sawahnya ke Ndoro“
“Bagus, bagus, biar jera dia. Berani sekali cerurut itu melawanku. Urus cerurut itu agar bersedia melepas tanahnya“
“Punten Ndoro, kalau dia masih ngeyel”
“Goblok kamu! Berarti kamu tidak becus menjalankan perintahku. Kalo tidak bisa maen kasar kamu main halus. Mengerti kamu?” Masih tak hilang roman marah di wajah Pak Ramon.
“Halus gimana Ndoro?”
“Sekarang dengarkan aku baik-baik. Ini Rencana halusnya. Ganggu istri Slamet. Buat dia tidak nyaman. Umpan Slamet dengan wanita. Bikin goncang keluarganya. Biar dia tidak tenang tinggal di lereng Tidar. Paham?” Tanya Ramon meminta jawab
“Baik Ndoro”
Narto pergi meninggalkan rumah mewah itu. Hatinya geram. Gara-gara Slamet dia kena damprat Pak Ramon. Narto geram. Ingin sekali dai menghajar Slamet jika bertemu nanti. Tapi hatinya masih gamang. Bagaimana pun dia harus berperan perlahan lahan, dengan cara halus. Itu yang dipesankan Pan Ramon. Dia menyungging senyum licik. Nampak pikiran lacur telah bermain di otak kerdil Narto.

∂∂
Arus sungai Elo mengalir dengan deras. Airnya berkejaran menuju muara di laut Selatan. Gemaricik suara air bertabrakan dengan bebatuan menambah syahdu suasana kali Elo. Air Sungai Elo masih cukup jernih, maka pantaslah jika banyak penduduk sepanjang pinggir kali memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci. Ada pula yang sedang memandikan kerbau. Suasana ramai biasanya dijumpai ketika pagi dan sore hari.
Sore itu Ratmi berjalan menuju sungai Elo untuk mandi. Dia menyusuri jalan setapak yang masih licin karena hujan siang tadi. Ratmi harus berhati hati-hati melangkahkan kakinya agar tak terpeleset jatuh ke bawah karena jalan setapak yang menurun cukup curam. Suasana sepanjang jalan sudah sepi karena hari menjelang malam. Azan magrib sebentar lagi berkumandang.
Ratmi tidak menyadari dirinya sedang diawasi. Sepasang mata jalang mengikuti setiap geraknya. Dari gelagat yang mencurigakan nampak niat yang tidak baik pada Ratmi. Kurang beberapa meter lagi Ratmi sampai di kali. Tiba-tiba sosok yang mengendap-endap muncul menghadang Ratmi.
”Mau kemana wong ayu?“ Lelaki berambut gondrong dan bergigi tongos itu genit menggoda Ratmi.
”Sopo kowe? aku ra kenal kowe“ tanya Ratmi marah.
”Walah, walah, ayu ayu kok galak tapi tambah ayu loh“ tangannya mulai nakal mencolek tubuh Ratmi.
”Hei jangan kurang ajar kamu“ sambil menampik tangan jail orang itu.
”Ayo sini sama mas, mas temenin sore-sore mandi, he..he..“kini tangan jail itu mencoba memegang tangan Ratmi.
“Lepaskan, lepaskan atau aku berteriak”
”Silahkan berteriak tidak akan ada yang dengar“
”Tolong... tolong... tolong...“ Ratmi berteriak sekuatnya. Histeris.
Suasana Suara teriakan Ratmi nyaring terdengar. Slamet yang kebetulan sedang berjalan pulang mendengar teriakan itu. Dia sangat mengenali suara itu. Suasana hatinya tidak menentu, antara khawatir, cemas dan geram. Itu suara isteriku Slamet menduga dalam hati. Slamet berlari secepatnya menuju asal suara. Betapa terkejut Slamet ternyata dugaannya bernar.
“Hei lepaskan istriku” bentak Slamet
Tanpa ba bi bu orang berambut gonrong dan bergigi tongos itu lari tunggang langgang. Seperti pencuri yang ketahuan. Slamet tidak mencoba mengejar, dia lebih mengkhawatirkan keselamatan istrinya.
“Ratmi, kowe ra po po toh?” tanya Slamet cemas.
“Ndak po po Mas Cuma kaget wae”
“Ya sudah syukur kalau begitu. Sekarang pulang saja ya?”
“Nanti dulu Mas aku kan belum mandi”
“Ooo gitu mas tunggu sampai kamu selesai mandi” sambil tersenyum Slamet mengawasi Ratmi yang sedang mandi. Suara azan berkumandang, waktu kembali berputar. Seperti tali alam bergelora kentara di tatap mata mereka. Slamet dan Ratmi.
∂∂∂
Siang yang garang membakar bumi. Suara buldoser dan eskalator terdengar lantang meratakan lahan Slamet. Narto dengan pongah mengomandoi proses penggusuran tersebut. Meski tanpa seizin Slamet penggusuran itu mesti dilakukan. Soal Slamet urusan belakangan. Hal terpenting sekarang adalah bagaimana pabrik Pak Ramon segera berdiri secepatnya. Narto tidak mau lagi keholangan muka di hadapan Pak Ramon.
Dari kejauhan seseorang berlari menghampiri lahan yang sedang diratakan itu. Dia berlari secepat-cepatnya menghampiri kumpulan orang yang sedang meratakan lahannya. Dari wajahnya nampak sekam yang sedang tertahan, tinggal tunggu dimuntahkan. Dia adalah Slamet sang pemilik lahan.
Seharusnya hari ini Slamet menuai hasil ladangnya. Tanamannya telah siap panen. Tinggal menhitung untung saja. Namun harapan tak sesuai dengan kenyataan yang membelalak mata. Lahannya telah rata, hancur bersama harapannya yang terkubur.
Kenyataan itu membuat Slamet murka. Senuan ini karena ulah Narto. Dihunusnya sabit yang sedianya untuk menyiangi rumput. Setan rupanya telah bertengger di benak dan pikirannya. Dirinya telah dikuasai amarah. Membara seperti lahar. Siap membakar semua yang dilaluinya.
“Hei To!” matanya tajam menatap Narto.
“Sekarang baru kutahu biang keladinya itu kamu, jangkrik!”hujat slamet menusuk
“Terus sekarang apa maumu, hah..” Jawab Narto meremehkan
“Kurang ajar, jangan disangka aku takut sama kamu To!”
“Tak perduli kamu punya banyak tukang pukul. Kamu telah menginjak injak martabatku” tak dinyana sabit yang sedari tadi digenggamnya kini menayambar dan berkelebat cepat mengarah ke leher Narto.
Menghadapi serangan tiba-tiba itu secara reflek Narto menghindar. Dengan membungkukan badannya serangan itu dapat dilekan. Sebagai mantan bromocorah yang cukup disegani dia telah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Sambil berkelit dia pegang tangan Slamet untuk kemudian mengunci pergelangannya hingga sabit yang dipegang Slamet lepas. Gerakan yang praktis.
“Celaka kamu met!” tanpa babibu lagi anak buah Narto langsung menyambut samsak hidup yang telah dilumpuhkan majikannya.
Habislah badan Slamet menjadi bulan bulanan anak buah Narto. Pukulan dan tendangan mengarah tubuh Slamet. Tangannya mencoba melindungi kepala agar tak terkena pukulan yang bertubi-tubi itu.
“Cukup!!” teriak Narto menhentikan pesta anak buahnya
“Jangan dihabisi sekarang, pak Ramon masih perlu tanda tanagannya” Perintah itu langsung dilaksakan.
“Bos bagaimana kalo dia lapor polisi?” Tanya salah seorang anak buah Narto yang berambut gondrong dan bergigi tongos.
“Tidak mungkin! Dia lapor polisi, istrinya kita habisin. Ha…ha…ha...” Narto puas. Kini tabiat buasnya telah terlampiaskan.
Narto dan anak buahnya berlalu meninggalkan Slamet yang terkulai tak berdaya. Mereka kembali meneruskan pekerjaan meratakan tanah yang terhenti karena insiden kecil tadi.
Sambil merintih kesakitan Slamet mencoba bangkit berdiri. Namun luka di tubuhnya terlalu parah. Wajahnya lebam. Pelipisnya bengkak. Dia memegang dadanya yang membiru. Bibirnya robek. Tampak cairan merah keluar dari hidungnya.
Terus mencoba dia bangkit. Mencoba berjalan meski terhuyung. Baru beberapa langkah dia berjalan, tubuhnya roboh. Pingsan.

∂∂∂∂
Slamet tersadar dari pingsan. Pandangannya masih kabur. Dimana aku sekarang, gumamnya dalam hati. Samar-samar dilihat seraut wajah. Wanita. Ya wajah itu sangat akrab dalam memori otaknya. Ratmi istrinya.
“Sudah sadar toh mas?” sapa Ratmi hangat.
“Iya tapi masih pusing kepalaku Rat” jawab Slamet sambil mencoba untuk duduk.
“Jangan banyak bergerak dulu Mas”
”Aku sudah baikan Rat, pegel semua badan kalau terus-terusan tidur“
”Hampir seharian mas pingsan, aku sangat khawatir, takut Mas kenapa-napa“
”Mas ngerti, mas minta kamu juga ngerti keadaan kita saat ini, tentang tanah kita“
”Aku ga mau Mas kenapa napa, kita relakan saja ya mas tanah kita buat Pak Ramon, aku sudah capek diteror terus Mas “
”Tidak Rat, bagaimana pun juga tanah itu akan mas pertahankan, ya sampai masa sewa nya selesai, mas mau pindah bila Pak Ramon secara baik-baik meminta tanah kita”
”Ingat Mas, tanah kita sudah digusur, sudah ancur”
”Mas mau ke rumah Pak Ramon sekarang“
”Eling Mas, sampeyan belum sehat betul“
”Rat mas pengin cepet tuntas masalah ini, mas sudah capet mikirnya“
”Kenapa tidak lapor polisi saja“
“Ah percuma, biar aku tangani sendiri saja, sekarang aku pergi dulu”
Marni menatap suaminya yang telah beranjak pergi. Tinggal sepotong galau yang masih menggantung di sudut hatinya yang rapuh. Ada rasa tidak enak, entah kenapa. Sebuah firasat burukakah. Tiba-tiba di bawah kakinya seekor kucing telah menggeserkan tubuhnya ke kaki Ratmi.
”Eh tobil, eh tobil” Marni keluar latahnya
Terbang semua kegalauan tinggal jikrak dan sapu yang melayang untuk mengusir kucing itu keluar rumahnya.
∂∂∂∂∂
Matahari telah di atas kepala. Slamet telah berdiri di rumah Pak Ramon yang megah. Nuansa angkuh teranpancar dari rumah itu. Makin lengkap sudah rasa tidak nyaman buat Slamet ketika dia mendapat penerimaan yang tak hangat. Hingga sempat pula dia bersitegang dengan penjaga rumah. Jawaban yang dia dapat dari penjaga bahwa pak Ramon sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu. Akhirnya dengan terpaksa Slamet menunggu.
Pagi hari sebelum dia mendatangi rumah pak Ramon dia lebih dulu datang ke lokasi pabrik. Namun karena tidak puas dengan jawaban satpam pabrik akhirnya dia memutuskan untuk datang langsung ke rumah pak Ramon. Harapannya dia bisa bertemu pak Ramon dan segera menyelesaikan kemelut yang terjadi.
Tiga jam sudah Slamet duduk di pos jaga rumah Pak Ramon. Kering sudah tenggorokannya. Jika tidak karena masalah tanah itu sudah dari tadi dia pergi meninggalkan rumah itu. Dalam benaknya dia bertanya, apakah benar sudah disampaikan kedatangannya pada Pak Ramon.
“Maaf ya Pak, sebenarnya Pak Ramon ada tidak?”
“Kamu tidak percaya ya sama saya?” mata penjaga itu melotot seperti mau keluar.
“Saya bukan tidak percaya sama bapak, tapi sudah tiga jam lebih disini saya mununggu, tapi Pak Ramon tidak juga keluar, sebenarnya dia ada atau tidak pak?”
“Saya tidak pernah menyuruk kamu menunggu disini, itu kan mau kamu sendiri, kalo tidak mau menunggu ya sudah silahkan pergi”
“Baik, saya pergi, sebab percuma saya menghadapi orang seperti kalian” tanpa pamit Slamet bergegas meninggalkan rumah itu.
Penjaga memandang kepergian Slamet dengan tatapan penuh amarah.
Slamet sampai di pusat kota, tepatnya di pasar Gotong Royong ketika hari menjelang senja. Dengan gundah dihati dia susuri pasar.
Gotong Royong sudah lenggang. Keramaian telah digantikan kesenyapan. Kontras suasana di kala pagi dan senja. Waktu mengalir tanpa kuasa dikekang lajunya. Pagi, siang hingga petang adalah perputaran yang semestinya. Masa sujud pada kehendak Sang Kuasa.
Para pedagang telah mengemasi barang-barangnya, hanya tinggal satu dua penjual minuman masih menggelar dagangannya. Pembeli pun sudah mulai jarang. Tukang becak dan tukang ojek masih setia berharap menunggu rejeki yang datang menghampiri. Buruh panggul beristirahat melepas penat di depan kios yang telah ditutup pemiliknya. Memberi kesempatan pada tubuh untuk kembali dapatkan kesegaran yang telah tersita karena peluh telah tertumpah memandikan tubuh.
Memang masih ada satu dua pedangang yang masih mengais rejeki di senja yang telah sepi ini. Mereka adalah pedagang makanan dan minuman. Ada yang benar-benar berdagang makanan dan minuman, ada pula yang punya profesi sambilan. Melayani pembeli sekaligus menawarkan jasa kencan.
Salah satu penjual minuman yang berprofesi ganda tersebut adalah Saritem. Wanita berpakaian menantang setiap pandang mata lelaki yang memandang. Sesekali dia memanggil orang yang lewat di depan warungnya dengan kemayu. Mungkin lebih tepatnya menggoda dengan lirikan mata nakal. Mudah ditebak bahwa dia bukan wanita baik-baik.
“Monggo mampir Mas” sapa genit Saritem dengan kerlingan mata.
Lelaki muda itu tak acuh menanggapi penjual yang genit itu. Namun rasa lapar mengundang hasratnya untuk sekedar singgah. Sedari pagi perutnya belum diisi. Perjalanan yang jauh, cukup melelahkan membuat aku Slamet ingin beristirahat.
Slamet tidak tahu ada bahaya yang sedang mengincar. Dibalik keramahan saritem yang manis tersimpan bisa ular nan bengis. Saritem memberi pelayanan yang ekstra daripada pembeli lainnya. Warung sudah sepi, tinggal dia berdua dengan Slamet.
Tanpa sepengetahuan Slamet, Saritem menyimpan niat jahat untuk mencelakakan Slamet. Makanan dan minuman yang diberikan kepada Slamet telah dibubuhi racun. Meski tidak mematikan namun bisa membuat hialnag kesadaran.
Slamet makan dengan lahap. Namaun selang beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya kepalanya mendadak pusing. Matanya berkunang kunang dan dalam hitungan detik tubuhnya jatuh tertelungkup di atas meja makan. Dia cuma bisa bergumama dan mendesis pelan.
“Kamu meracuniku.. eghh.. eggh”
“Kamu cuma korban Slamet”
Saritem melihat keadaan sekitar dengan waspada. Setelah dirasa cukup aman dipapah tubuh Slamet berjalan ke bagian belakang biliknya. Kemudian dia menutup warung agar tidak ada orang yang mengetahui rencan jahat yang dilakukan.
Dibaringkan tubuh itu di amben. Ditatapnya tubuh yang lemah tak berdaya.
”Huh.. sukses juga akhirnya rencanaku. Tinggal tunggu kang Narto. Semuanya beres.“ bibirnya menyunggingkan senyum sinis menyimpan dendam.
Pintu belakang warung Saritem diketuk orang. Saritem segera bergegas menuju pintu. Dia ragu untuk segera membuka pintu itu. Sejenak dia berdiri termangu untuk memastikan siapa gerangan di balik pintu.
”Yu, buka pintu yu..., cepat buka yu” suara berat laki laki memanggil di luar.
“Kang Narto ya?” Saritem langgsung menebak oorang dibalik pintu tersebut.
“Ya, cepet buka”
Narto masuk lewat pintu belakang. Mungkin agar lebih aman dan tidak terlihat kehadirannya oleh orang lain. Suasana petang yang mulai remang membuat Narto lebih nyaman menyembunyikan jati dirinya.
“Sudah beres toh semua toh yu?”
“Lihat sendiri kang siapa yang di dipan itu”
Senyum puas merekah dari bibir Narto yang hitam karena rokok.
“Tinggal selangkah lagi rencana kita sukses, yu. Roh adikmu akan segera tenang karena dendamnya akan segera terbalaskan” mata Narto menatap genit ke arah Saritem.
“Iya kang” sambil meraih tangan Narto untuk dibimbingnya masuk ke kamar. Entah apa nanti yang akan terjadi. Namun jika dua insan berlainan jenis telah terjerat oleh tali setan hanya buah dosa yang akan dipetik kemudian.
∂∂∂∂∂∂
Ratmi gundah menunggu suaminya datang. Sudah satu hari Slamet tidak pulang ke rumah. Mondar mandir dia di depan pintu. Banyak tak enak berkecamuk dalam benaknya. Ada kekhawatiran yang sangat akan keselamatan suaminya. Tiba tiba pintu diketuk membuyarkan kegundahannya.
Ratmi segera membuka pintu. Semoga tamu itu suaminya. sudah meluap rasa kangen. Tapi tak seperti biasanya, suaminya selalu mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah.
“Pak RT” agak terkejut aku melihat lelaki ini di depan pintu.
“Ada berita kurang menyenangkan tentang suamimu Ratmi” sambil tangannya menyerahkan koran daerah edisi hari ini.
Magelang- Ramon Ramosta, warga Perumahan Taman Kyai Langgeng, Kota Magelang ditemukan tewas dengan tubuh tergantung diatap kamarnya, Selasa (22/3) sekitar pukul 16.00. Ironisnya kejadian ini baru dilporkan ke polisi pukul 20.00.
Dugaan sementara korban tewas karena dibunuh akibat sengketa tanah. Tersangaka utama dalam kasus ini adalah Sl (28), warga lereng tidar. Informasi yang diterima Suara Merdeka dari Narto, penjaga rumah Ramon, Sl telah lama berselisih dengan Ramon karena sengketa tanah....
Ratmi terduduk lemas di kursi. Dari matanya mengalir air menganak sungai. Bayangan kekhawatiran yang selama ini ada dalam pikiranya telah menjelma menjadi nyata. Entah bagaimana lagi kisah ini dibentangkan. Cukup doa yang dia panjatkan kepada yang kuasa. Semoga dia bisa tabah menghadapi ujian ini.

*******
damarati, awal Maret – tengah Juni 2005

Selasa, April 05, 2005

Seseorang Dari Masa Lalu

Seseorang dari masa lalu datang lagi. Dia seperti menawarkan harapanbuatku. Semoga anggapanku salah tentang ini. Sungguh aku ingin setiapada satu jiwa yang telah membumikan hatiku karena Nya. Ketika merahjambu yang telah redup kembali dibuatnya merona. Sanggupkah akau menolakpesonanya. Dan ketita kesempatan itu tiba hari ini, masih kuasa akumenolak. Dengan halus. Aku tetap tulus. Menempatkan sewajarnyakeberadaan kepentingan dan keinginan. Selalu berharap agar bisa adasetia meski seadanya.Adalah sebuah pembelajaran diri tentang berbuat tuk saling menghargai.Pada batas pengawasan yang begitu longgar. Atau sama sekali tanpa. Mamputidaknya diri berbuat terbaik. Karena keprcayaan adalah sebuahpenghargaan peda si pemberi. Menghianatinya berarti merusak keindahan,membakar kedamaian. Dan jangan pernah berharap banyak akan kembalinyakercayaan itu. Kebanyakan musnah menjadi abu, atau tetap ada meski arang saja.

damaratiNasihat buat diri sendiri

Jumat, Maret 18, 2005

SUATU KETIKA DI RUMAH DUNIA

SUATU KETIKA DI RUMAH DUNIA
Oleh Damarati

Dari tanah merah kami datang
Meneguk air ilmu
Menenun rasa ingi tahu
Menghamparkan pandang pada dunia

Kemana menti kami berlabuh
Jika haluan task pernah satu bersauh
Atau…
Dibiarkan arah angin bawa kami
Telanjang dalam tatap mata terawang

Di sebuah persinggahan
Perahu berlabuh
Kepada guru..., Sahabat..., yang tulus
Dituang ilmu pada bejana ras ingin tahu
Lukisan diri dia pampangkan

Beri kami arti, makna, hakikat
Pencapaian sesungguhnya
Berbagi dengan sesama

KEPADA BUNDA, ATAS NAMA CINTA

Dini hari ini kembali kuingat dirimu. Ingat tentang segala cinta tulus kau berikan untuk ku. Tanpa pamrih. Hanya kasih meski perih sering tertoreh di kulit, hati dan setiap penyadaranmu tuk bahagiakan aku. Kau wanita perkasa. Membesarkanku dalam genangan cinta yang tak pernah kering meski kemarau dan teriknya hidup telah menguapkan banyak cinta yang pernah kutemui. Cintamu abadi. Pantaslah Alloh nisbatkan bahwa surga ada di bawah telapak kakimu.

Bunda….
Masih kuingat dulu ketika kau ditinggal sendirian. Menjalini biduk kehidupan tanpa nahkoda. Sang nahkoda telah lupa akan janjinya. Bersandar dipelabuhan lain., ketika bidukmu diterpa badai di samudra bernama rumah tangga. Waktu itu aku hanya penumpang yang tak tahu kemana sebenarnya perahu ini berlayar. Sang nahkoda tak banyak bercerita tentang haluan yang ingin di singgahinya. Sampai suatu ketika kulihat dia pergi tinggalkan biduk. Melupakan dirimu. Sampai kini belum juga kumengerti jawabnya. Dan aku tak ingin tahu mengapa.

Sejak saat itu kau layari samudra kehidupan sendirian. Membawa aku dan adiku mengarunginya (sering kau sebut kami buah hatimu, buah cinta yang Alloh titipkan padamu). Bukan hanya badai yang kini kau temui. Batu karang pun tak membuatmu berpantang mengayuhkan sauh menuju pulau harapan. Karena sendiri, banyak perompak atau bajak laut yang mengganggu perjalanan kami. Dengan berbagai cara mereka coba memperdaya. Ada juga pangeran dan saudagar menawarkan diri tuk bersama mencapai haluan. Tapi bunda tak mudah percaya lagi. Takut tertipu kembali. Yang ada di benaknya waktu itu hanya bagaimana antarkan aku dan adikku agar bisa mandiri mengarungi samudra kehidupan. Bunda sadar tak selamanya beliau kan kuat berlayar. Maka dia bekali aku dengan ilmu dan pengetahuan. Cinta dan kasih sayang pada sesama. Karena itu modal untuk gapai bahagia sejati.

Perjalanan Bunda telah mengantarku ke pengembaraan ku sendiri. Di Tanah para sultan aku mencari arti kehidupan sesungguhnya. Mengamalkan semua ilmu hidup yang kau ajarkan. Menuai cinta dan kasih yang telah kau semaikan.
Satu pesan beliau yang sangat kuingat hingga kini.
“Laki-laki dihargai karena kata-katanya”
Kuartikan, besar harapanmu agar aku selalu memegang janji dan jujur dalam kehidupan. Karena apalah nilai seorang manusia jika tanpa kejujuran. Jika aku mengingkari setiap kata yang keluar dari mulutku berarti aku telah mengingkari penciptaanku. Mengingkari karunia Alloh yang telah menghembuskan ruhku dalam rahimnya. Ruhku berhutang pada tubuhnya.

Bunda aku rindu padamu. Kangen petuahmu. Aku ingin pulang. Barang sebentar ingin berjumpa denganmu. Mencium tanganmu. Karena kutemukan damai di situ.



Damarati, yang lagi kangen Bundanya

Jumat, Maret 11, 2005

Krenceng, Sunday Morning Posted by Hello

Whisper In The Wind

Antologi Keangkuhan

Hari ini
Ku cuma bisa duduk di luar
Tak bisa berdiri sejajar
Di strata mereka, coba unjukkan diri

Mungkin kini
Hanya sebelah mata mereka pandangi aku
Sarat angkuhmu busungkan dada
Merasa kuasa beli segala

Tapi nanti
Yakin ku pasti
Dengan telanjang mereka akan jilati diriku ini

Bukan sekedar ku berkoar
Atau sesumbar omong besar
Semua kan kubuktikan bila tiba saatku unjuk gigi
Kan kupatahkan tirai besi penghalang
Kan kuruntuhkan tembok penghadang

Sajak ini bukan elegi rasa iri
Menyumbat nurani, membakar hati
Tak pula kobarkan percik permusuhan
Antara dua dunia kita berbeda
Karena angkuhmu pisahkan kita
Disini


GOR Wisanggeni Tegal
21 Maret 1999

Di Suatu Jum'at 98

Jum'at semua berlalu begitu cepat
Ada kegetiran setelah hati ditinggal matahari sayang
Yang telah menumbuhkan diri anak-anaknya
Dengan butir keringat kenyangkan perut mereka

Bertahun air susunya kuminum, besar hariku dalam
Tertatih langkah tersendat. Berat! Mengalun
Lagu simponi gerimis antara kayu, asap rokok dan mendoan
Dari benua merah dia datang
Dan tak pernah kuijinkan orang mengoyak air putih itu

Seperti Laila dalam Saman
"Tak ada kemarahan yang dapat kuawetkan selain dendamku pada ayah.
Seperti cinta tak ada seawet manisan dalam botol selai
Semuanya laksana tomat menggemaskan hari ini
Layu beberapa hari kemudian"

Tapi tak berlaku pada matahari hidupku
Cinta abadi bukan mitos masa lalu
Seperti pragmatis
Tak ada kawan dan musuh abadi
Yang ada adalah kepentingan abadi

Senin, Maret 07, 2005

Surat Cinta Dari Hawa

SURAT CINTA DARI HAWA

Assalamu’alaikum wr wb
Segala puji hanya bagi Rabb yang mempertemukan hati kita
Dalam cinta kepadaNya…
Sholawat kepada Rasulullah SAW, teladan sebenarnya
Semoga kita bisa berkumpul bersama beliau di syurgaNya yang abadi …

Dear Adam...
Maafkan aku jika tulisan ini membuatmu tersinggung atau marah
Sesungguhnya aku adalah Hawa..
Teman yang kau pinta
semasa kesunyian di syurga dahulu

Wahai Adamku.....
Aku berasal dai tulang rusukmu yang bengkok
Membuatku mudah sekali berbuat salah
tergelincir dari landasan ilahi
Oleh karena itu adamku, aku butuh bimbinganmu...

Adam....
Maha Suci Alloh yang menakdirkan jumlah kaumku lebih banyak dari kaummu
ini adalah sebuah ketetapan Alloh
Bayangkan jika jumlah kaummu lebih banyak dari kaumku
Niscaya merahlah dunia, karna darah
Kaummu akan saling berperang karna hawa
Tentu adamku ingat peristiwa Habil dan Qobil
dan turun temurun sampai anak cucunya
Dan tentu saja, jika kaummu lebih banyak
Maka menjadi tidak selaraslah hukum Alloh
yang memperbolehkan kaummu beristri lebih dari satu tapi
tidak boleh lebih dari empat ...

Adam....
Bukan karena banyaknya kaumku
yang mengejar dirimu yang membuatku risau
atau bukan karena jumlahmu yang sedikit yang membuatku resah
bukan..
tapi...
aku risau, gundah menyaksikan perbuatan kaummu…..

Kaumku, sejak dulu...
memang harus patuh kepadamu ketika sudah menjadi istrimu…..
Namun...
terasa berat pula bagiku mengungkapkan isi hatiku saat ini…


Adamku yang dikasihi Alloh....
aku tahu bahwa dalam Al-Qur'an ada ayat
yang menyatakan bahwa kaummu adalah pemimpin bagi kaumku
Engkau diberi amanah untuk mendidikku, menjagaku
agar selalu dalam ridho Tuhan kita

Tapi adamku....
bukankah telah kau saksikan sendiri bagaimana kondisi kaumku saat ini?
Mungkin banyak dari kaumku yang sudah tidak lagi
menghormati tanggungjawabmu itu..
Dan entah sudah berapa banyak kasus kaumku lepas dari kodratnya...
Lihatlah Adam...
Banyak dari kaumku yang bertebaran di keramaian
dan membiarkan auratnya terbuka..
Membiarkan mata-mata jalang sebagian dari kaummu
memandangnya dengan penuh nafsu..
Naudzubillah..

Adam..
Mengapa kau biarkan kaumku seperti ini?
Betul, jika kaumku kelak, akan menjadi seorang ibu,
madrasah bagi anak-anakmu..
Tapi lihatlah...
pada saat yang sama kaumku tampil kedepan mengurus hal negara,
mencari nafkah, bahkan berada di hutan memanggul senjata
pergi pagi pulang entah kapan..
Madrasah bukankah tidak boleh tutup walau sejenak?
Agar anak-anakmu juga bisa belajar kapanpun dia mau...
Adam..
Apakah sekarang kau tidak seperti dulu?
Sudah hilangkah kasih sucimu terhadapku?

Adam...
jangan marah ya, jika kukatakan
seandainya kaumku tergelincir
maka engkaulah yang akan menanggungnya...
Kau tanya kenapa?
Ya, bukankah jika seorang anak berbuat jahat,
maka orangtuanyalah yang akan disalahkan..
Jika murid bodoh maka orang berkata
pasti gurunya yang tak pandai mengajar..
Kulihat kaummu balik menyalahkan kaumku...
Kau katakan hawa susah diatur, tidak mau mendengar perkataanmu
Tidak mudah menerima nasehat, keras kepala..

Adamku...
cobalah bertanya pada dirimu..
Apakah didikanmu kepada kaumku
seperti didikan Nabi Muhammad SAW terhadap istri-istrinya?
Apakah adam memperhatikan Hawa seperti psikologi Rasulullah
terhadap istri-istrinya?
Apakah akhlak dan pribadimu sudah pantas dijadikan contoh bagi kaumku?

Adam.........
Engkau adalah imam
dan aku adalah makmumnya
ya, aku adalah pengikutmu karna engkaulah pemimpinku
jika Adam benar, hawa pun benar...
Jika kau lalai, maka lalailah pula aku
Kau dilebihkan akal olehNya,
maka pergunakanlah untuk mendidikku..
Maka Adamku..
pimpinlah aku...
karna betapa seringnya aku khilaf
didorong oleh nafsu dan perasaanku

Bimbing aku menyelami firman-firman Tuhanku
agar aku menjadi pendampingmu yang sholehah
Perdengarkan kepadaku kalimah syahdu dari Tuhanku
agar cahayaNya senantiasa menerangi hidupku
Tiupkan ruh jihad ke dalam dadaku
agar aku menjadi mujahidah kekasih Alloh
Adam...
Jika engkau masih lalai dan khilaf
masih berbuat seenaknya
masih tak acuh dengan semua tanggung jawabmu
masih gentar mencegah kemungkaran
dan masih segan mengikuti langkah Rasul dan sahabat
maka tunggu dan lihatlah
dunia ini akan hancur karena kaumku yang akan memerintah
Dan bagimu, hanya rasa malu yang teramat besarlah
yang mampu kau tunjukkan
dihadapan kaumku dan Tuhanmu

Adamku...
Maafkan aku..
maafkan aku sekali lagi...
jika surat yang kusampaikan kepadamu ini
menimbulkan amarah didadamu
tapi percayalah...
Bukan emas, atau intan berlian yang kucari..
bukan...
hanya hati tulus ikhlas darimu adam..
tuk kembali merenungi peranmu diciptakanNYa
dan melaksanakan sebenar-benarnya tanggungjawabmu...

dengarkanlah...
suara hatiku untukmu

Wassalam

----- tulus dari hawa--------
dari hawa yang mencintaiku
damarati.blogspot.com

Senin, Februari 28, 2005

TOPENG, SEBUAH SIMBOL DENGAN DUA MAKNA

Mengunjungi Rumah Dunia kita akan merasa seperti berada di tempat penuh simbol. Kita suguhi berbagai macam benda dan ornamen yang tergantung di tiap ruangan. Lukisan karya anak-anak, caping, jaring ikan, centong nasi, topeng sampai sapu lidi pun tergantun . Apa maksudnya? Hanya Gola Gong, sang penguasa Pustaloka Rumah Dunia yang tahu maknanya.
Lewat tulisan ini saya ingin menelusuri dan sedikit mengupas tentang makna topeng yang terpasang di pintu masuk kiri Kedai Jawara. Ada hal yang menggelitik dan mengusik saya untuk menulis idiom topeng dalam tulisan ini. Mengapa topeng yang dipasang di pintu. Apakah ini sebuah simbol pesan yang ingi disampaikan oleh Gola Gong. Mencoba menerka tentu bukan hal yang salah tentunya.
Dalam kesustraan Cirebon menurut Jacob Sumardjo dalam buku Filosofi Topeng Cirebon, topeng adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.
Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.
Dalam makna keseharian topeng bisa diartikan diri yang ingin memperoleh citra lain atas dirinnya sendiri. Pencitraan yang dibuat biasanya mengunggulkan diri sendiri dihadapan publik. Baik yang terang terang-terangan maupun secara tersembunyi. Ada yang ingin dianggap sebagai ulama bertopenglah dia seperti ulama dengan kopiah dan jumbah religius serta sabda-sabda Tuhan yang diri sendiri belum tentu melaksanakan. Atau mereka yang ingin dinggap sebagai penderma menyumbang dengan pamrih tersirat dari setiap rupiah yang diberikan. Makin besar rupiah yang diberi ada hasrat untuk memiliki sesuatu ytang lebih besar pula.
Tinggal sekarang makna topeng mana yang akan kita pilih. Mencari simbol penciptaan itu sendiri atau untuk menutupi keburukan diri.(damarati)

K3N

Aku kenal dia lima tahun yang lalu, saat pengembaraan mencari jati diri yang tak kutemui di tanah kelahiranku. Kakekku yang mengenalkan keluarganya padaku, bahwasannya antara kami bersaudara. Perpisahan antara kedua orang tua ku membuat aku tak mengenal keluarga dari bapakku.

Sebenarnya keluarga dari bapakku memiliki sisilah trah yang panjang. Pernah kulihat buku trah yang sempat disusun salah seorang anggota keluargaku yang di Magelang, dan nama keluargaku tak tak tercantum di dalamnya). Kehilangan jejak dalam sejarah keluarga.

Ada bias kebebasan saat pertama kali melihatnya dengan kesan tomboi yang tersirat dari caranya berjalan, berpakaian dan berbicara meski masih tertutupi oleh bahasa jawanya yang lemah lembut khas wong wetan.
Pertemuan pertama hanya kesan itu yang kudapat, selebihnya hanya lupa yang tersisa dalam ingatan. Namun takdir mempertemukan kita lagi. Dua tahun berikutnya aku berjumpa dengan dia yang penuh antusias bertanya tentang agama dan hubungan dengan lawan jenis, entah itu perkawanan atau hal lainyang lebih pribadi. Semua dia tanyakan dengan terbuka tanpa kau tutupi, seakan ada kepercayaan bahwa aku bisa menjawabnya. Kucoba tanggapi semua pertanyaannya dengan sabar dan kujawab dengan hati-hati. Aku tahu dia masih hanif dan ingin memperbaiki diri namun masih ragu untuk tentukan pilihan. Aku hanya tahu kulit agama, salah menjawab fatal akibatnya. Tapi setidaknya ada ilmu yang tersampaikan. Bukankah ilmu agama adalah hak mereka yang tak tahu. Sampaikanlah meski hanya satu ayat. Saat itu k3n (katrin = ketika kutemukan keindahan namamu) sudah di semester tiga, sedang aku baru masuk salah satu pendidikan kejuruan lanjutan.

Dan hari ini kuterima sepucuk surat darimu. Kau bercerita banyak lewat tiap kata yang kau tulis. Ingin bebagi kebahagian katamu. Berbagi kebahagiaan? batinku bertanya gerangan rasa apakah yang sudi seorang dara bagikan bersamaku yang saat ini masih mengais arti bahagia itu sendiri.
Masalah busana muslimah. Agak surpraise juga aku mendengarnya. Katrin dah dapet hidayah, aku bersyukur atas kabar tersdebut. Sisi batin kecilku yang lain berteriak halus. Ah... ini cuma sensasi saja, mungkin dengan itu dia bisa mendapat banyak manfaat. Publikasi gratis karena teman-temannya banyak bergunjing tentangnya atau ada mahluk yan namanya lelaki ...(orang pengajian biasa memanggil ikhwan) yang ingin digaetnya. Bisa jadi.
Sisi batin keciku membuat aku semakin ingin menampik semua prasangka tersebut. Membiarkannya terus bermain akan semakin membuat seluruh jiwaku keruh dengan dugaan.

Dia berkisah, bahwasannya untuk merubah satu penampilan, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari baju atas dan bawah, sepatu, tas, kaos kaki ditambah lagi kerudung plus pernik-perniknya. (Ngak pernah kebayang olehku yang gini-gini)
Aku bisa mereka-reka perubahan penampilanmu yang begitu drastis saat ini, harapanku semoga dia tidak merasa aneh atau malu dengan pilihannya itu. Semoga kau bisa istiqomah. Hey aku berdoa…. memungut harap agar Alloh berikan kekuatan agar dia selalu berada di jalan yang benar yang telah dia pilih.

Kau juga berkisah bahwa tentang betapa kemudahan akan Alloh berikan jika azzam tlah teguh di dada. (Azzam… kata palagi itu, kucari di google baru ngeh aku apa itu maknanya) Semua yang kita sangka sulit, jika Alloh berkehendak tiada sesuatu yang sulit bagi Nya.
Kau berhitung tentang jumlah kerudung yang kau punya, logikanya dengan uang sakumu tak kan cukup untuk memenuhinya. Dan datanglah pertolongan itu, ada seorang temanmu bercerita bahwasannya dia hanya punya baju muslimah tiga potong plus bawahannya. Untuk keperluan kuliah dia hanya menukar-nukar koleksi itu. Ternyata mudah dan sederhana tipsnya. Jika dihitung, masih banyakan koleksimu dibanding temannya. Maka bertambah kuatlah azzammu. Pasti bisa…. pekiknya.

Masih tentang kemudahan yang kau dapat. Pertama keluar dengan penampilan baru, dalam hati kau ada hal yang tak kau percaya, kau telah memakainya. Sebuah kewajiban telah ditunaikan, menutup aurat. Sebuah impian yang akhirnya jadi kenyataaan.

Minggu pertama masih terasa canggung kau mengenakannya, masih „wagu“ katamu. Tapi ternyata banyak yang mendukung dan banyak sambutan kebahagian dari teman-teman dekatmu, Ditengah kegundahan „diterima gak ya ma teman-teman“ bisik dalam hatimu.
Dan keajaiban itupun terjadi kembali, satu per satu temanmu memberi buah tangan kerudung untuk kau kenakan. Betapa pertolongan Allah begitu besar, jumlah kerudungmu yang dulu tiga potong, kini bertambah menjadi empat belas. Subhanallah, pertolongan Mu begitu besar dan dekat.

Yang lebih lebih membahagiakanmu adalah dakwah yang secara tak langsung kau sampaikan kepada keluagamu. Berdakwah lewat jilbab yang kau kenakan. Meski statusmu masih mua’alaf jilbab namun setidaknya kau telah memberi sebuah pemahaman yang baru tentang bagaimana Islam yang sesungguhnya.

Sungguh adalah sebuah perjuangan menegakkan kebenaran diantara lingkungan yang bebeda pemahaman. Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana keislamanku jika aku dulu aku ditakdirkan ikut babakku. Tentu sangat berat Islam jika jauh dari lingkungan yang penuh dengan nuasa keislaman.

Ya, Rabbi semoga kau terus melimpah nikmat hidayahMu pada saudaraku, Katrin (K3N). Dan jadikan lah pengalamannya menjadi ibrah bagiku untuk tetap bersykur atas segala nikmatMu padaku, terutama nikmat Islam ini.
Nikmat yang terindah yang tlah Alloh berikan.

Berkaca pada katrin membuat aku membuka lembaran batin, mengais tiap baris dari gores cerita yang telah aku tulis. Memaknai bagian hidup mana yang telah aku rubah untuk menegakan agama Alloh. Tetap teguh pada ajaran agama, sampai dimana batas aku bertakwa. Padahal takwa hakekatnya tanpa batas. Dia berarti selagi nafas masih berdesah di raga. Selagi nadi masih berdenyut. Di sinilah amal kita dihitung berakhir nanti setelah kita masuk liang kubur.

Damarati, it’s dedicated to my self

Sabtu, Februari 26, 2005

DURJANA MENCARI CINTA (2)

Di pinggir kota berdebu
Lenggang kaki lelaki langkah pasti
menyungging senyum penuh serum
Mematikan tatap mata

Di tangan tergenggam parang
siap kibaskan semua penghalang
mandikan darah setiap nyawa tertumpah
kirinya seratkan pena
melukis kata hampakan makna
tentang kekecian, jiwa-jiwa terbudak,
menghamba dunia

Dirunut dari mata
titik hitam seperti jelaga
galap, pucat, kering, tanpa rasa
menggaharap dari sebuah nyawa terampuni
dapat kembali empati
insan tlah hilang
malikat enggan bersemayam

Durjan bukan petualang
sekeping batu
di jazirah kehidupan satu putaran waktu
masih butuh cinta
meski tak tau kepada siapa ditumpahkan

dedicated to separuh diri yang lagi hilang

DURJANA MENCARI CINTA

Di sudut kota berdebu
Langkah kaki lelaki kaku
mengayuhkan dendam didetiap injakan
menyuguhkan duka setiap tapaknya

Tangan kanan kibaskan parang
memetik tiap nyawa melayang
Di kirinya pena
tulis mantra penghembusan

Adakala ketika jiwa telah lelah
menuju puncak rentetan
khayal, nelangsa tak berkesudahan

Rongga mata sehitam jelaga
tengah tergambar peristiwa
mengharap
torehan luka tlah terbuat
sebuah jiwa disampingku menghambat
menanti
tuk dapat,...
layakah sang pendosa peroleh cinta
murni, tulus tanpa pewarna

Senin, Februari 21, 2005

Langit Gelap Krenceng

awal minggu tlah berdebu
beringaskan hari akan kuhadapi
tapi aku belum mau mati
atau tersunggkur di tanah kubur
mengais-ngais jatah umur

Setiap hari kugadaikan waktu
dengan menjual tenaga
hitungan masa hidupku
di sebuah jawatan orang berkulit dungu

Buka tutup tulisan kesaksian kerja
adalah rutinitas
merentas batas
sari tudung pagi hingga payung mentari ditutup malam

langit gelap tanda saat aku merayap
menyusuri jalan pulang setelah selesai masa gadai
Di lapangan krenceng
hanya hitam tertimpa redup bolam jalan
hanya hitam kepada diri suguhkan kepenatan

Langit gelap krenceng
lukisankan hidup makin melenceng


from desk of damarati

Minggu, Februari 20, 2005

Hatiku Terbakar!

Toolooong....toolooong!
Vibrator lidah , pita suara, dinding kerongkongan, gigi serta gusi
kompak menyenandungkannya
seperti virtuoso memainkan komposisi alternative
dijepit sulit, kenapun menggigit
matanya berkaca, melelehkan air telaga
atau anak sungai yang mengalir ke laut

Toolooong...toolooong!
ada yang terbakar
meski disiram anak sungai bidadari
belum padam orkestra sang virtuoso bersenandung
kini jiwa apa kabarnya
apa sama dengan kata dibaris pertama
berharap ada nyawa mengabulkan inginnya
ah........
hatiku terbakar
bidadari terkapar
aku terdampar


Ketika bidadari enggan berpisah dariku...

Cool Sunday Morning

When I open my eyes, my body feel vertigo
Why yah? I don't understand what happen with me
Why yah? My mind lose control
Why yah? The air is so fresh for all of human being
Why yah? My pocket is full...
Why yah? I believe God bless me today
Sure...sure...sure...
Cool sunday morning


Habis mabit..ngantuk banget!

Rabu, Februari 09, 2005

Sedikit Curhat Tentang Makan Siang Di Kantin PTSI Cilegon

Assalamu'alaikum Warohmatullohi wa Barokatuh

Semoga Berkat dan Rahmat Alloh senantiasa tercurah untuk kita semua

Makan adalah kebutuhan hakiki dari setiap mahluk ciptaan Tuhan. Kegiatan tersebut adalah sarana untuk menyambung kehidupan manusia sebagai utusan Tuhan di muka bumi.
Dikatakan oleh Kalam Nya bahwa kita pun harus mensyukuri setiap suap makanan yang masuk ke badan kita sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Menelan dengan legowo tanpa berkeluh apalagi sampai mencaci makanan yang kita dapatkan adalah tauladan yang diberikan Rosul pada kita. Karena itu adalah rizki yang wajib kita berterimaksih karena masih diberi, hingga hari ini.

Namun (ada paradoks ... mungkin kontradiktif dari apa yang akan saya tulis)....
Ketika kita dihadapkan pada selera terhadap makanan, tentu tiap orang akan berbeda jawabnya. Dalam mensikapinya akan muncul banyak reaksi. Ada yang suka, ada yang biasa hingga menghina dan memuntahkan makanan yang hampir ditelan. Semua berpulang pada yang namanya selera.
Jika kita makan di warung tentu tiap orang bisa memilih sesuai seleranya masing-masing. Tetapi saat kondisi makan yang telah dipatok harga per porsinya tentu ada standar selera yang pantas diterima. Rasa sebanding dengan harga. Ada nilai rasa disana, yang tentunya bisa dimaklumkan sebagai cita rasa bersama. Efeknya akan lebih banyak orang yang tidak berkomentar negatif tentang rasa makanan yang di sajikan, syukur komentar positif diberikan.

Kita ambil contoh kasus, ketika kita makan siang di kantin kita tercinta. Dari hari ke hari bukan makin baik pelayanan dan makanan yang disajikan. Baik dari jumlah maupun rasa. Saya tak tega berkata "buruk" karena berarti tidak mensyukuri rejeki yang saya makan hari ini. Hanya saja alangkah indah jika saat kita makan, lidah kita mengecap rasa yang mendorongnya bersyukur akan makanan dikunyahnya hari ini. Bukan "ngedumel" atau komplain pada rasa yang tak sesuai standar selera bersama.

Saya menulis ini untuk diri saya sendiri sebagai tumpahan unek-unek atau curhat yang ingin saya bagi. Ini bukan komplain, hanya sedikit sentilan tuk kebaikan bersama. Jika ada yang tak berkenan dari tulisan saya ini mohon kelapangan untuk memaafkannya. Kebaikan datangnya dari Sang Penggenggam kehidupan, luput dan salah adalah di diri saya selaku insan.

Setiawan Hadiswoyo (Sosok Lain Damarati

Tunggu

Dia titip pesan waktu itu
Tunggu....

di balik pintu,
di meja kerja,
Jelusi jendela berdebu

Setengah putaran berlalu

tunggu....
Terngiang kembali kata itu

Kini di lorong waktu
di ruang masa
Hingga kurasa jemu

From desk of damarati (13 Januari 2005)

Tengah Siang

Matahari
panasnya mendidihkan raga yang rapuh

Setelah hujan pergi tanpa pesan minggu lalu

Masih
tersisih di kubangan waktu memburu
aku tahu


Damarati
from my desk (12 Januari 2005)

KAMU

Dihangatnya kurasa dinginmu
Didinginmu kureguk panasnya

Kering Hati dibasahi kasihmu
Basah Jiwa Kering karenanya

Di remang subuh tangkap pendar bayangmu
Ada terang di balik sisi gelapmu

merayap... mengendap...
hingga aku bersimpuh
kaku


From desk of Damarati (11 Januari 2005